Yaf Keru
Restorasi Terumbu Karang

Terumbu Karang Raja Ampat telah mendukung kehidupan manusia sejak pertama kali tiba di wilayah tersebut ribuan tahun yang lalu. Saat ini, terumbu karang terus mendukung mata pencaharian dan kehidupan masyarakat setempat yang masa depannya sangat bergantung pada kondisi terumbu karang yang sehat.

Terumbu Karang Raja Ampat juga memiliki nilai dan pengaruh ke seluruh dunia dari sudut pandang ekologis dan ekonomi. Dalam menghadapi ancaman global yang ada dari perubahan iklim, ancaman historis seperti penangkapan ikan dengan dinamit (yang telah menyebabkan sebagian besar terumbu karang hancur tanpa kemampuan untuk pulih tanpa bantuan) dan ancaman yang muncul dari pembangunan yang pesat dan tidak berkelanjutan secara lokal, terumbu karang Raja Ampat maupun masyarakat yang bergantung padanya akan menghadapi masa depan yang tidak pasti.

“Rebirth” – The story of Yaf Keru, by Feroxed

Yaf Keru dimulai di Raja Ampat sebagai proyek percontohan pada 2016. Setelah fase uji coba 3 tahun yang menunjukkan kelayakan restorasi terumbu berbasis masyarakat, kami bermaksud untuk memperpanjang pendekatan Yaf Keru ke daerah lain di Raja Ampat. Tujuannya adalah untuk lebih meningkatkan program ini agar mencapai potensi penuh dalam hal dampak ekologis dan advokasi lingkungan, serta sebagai sarana untuk memberikan mata pencaharian yang ramah lingkungan kepada masyarakat lokal.

Mengapa kita memerlukan restorasi terumbu karang?

Bagi banyak pihak, Raja Ampat dapat dianggap sebagai kisah sukses modern dalam hal konservasi. Selama dekade terakhir, kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat lokal dan yayasans telah memungkinkan pembentukan jaringan penting Kawasan Konservasi yang mencakup hampir setanga dari kepulauan. Berkat upaya ini, praktik-praktik seperti penangkapan ikan dengan bom ikan dan kegiatan industri sirip hiu hampir sepenuhnya diberantas.

Namun masih ada beberapa tantangan tersisa maupun tantangan baru yang muncul dan membutuhkan perhatian segera untuk membatasi dampak lingkungan mereka termasuk;

  • Stabilitasi substrat
  • Pengembangan Pariwisata/Selam yang Cepat
  • Degradasi karang yang diakibatkan terinjak-injak dan tertendang oleh wisatawan
  • Kerusakan akibat Jangkar dan benturan dengan Perahu
  • Bintang Laut Berduri
  • Lihat tentang Terumbu Karang Terancam untuk perincian lebih lanjut

Yaf Keru mengatasi masalah ini dengan melibatkan masyarakat lokal dan kelompok pemangku kepentingan lainnya dalam pengelolaan sumber daya lokal yang berkelanjutan.

 

Puncak Gunung Es 

Sementara restorasi terumbu karang dapat memiliki keluaran ekologis yang signifikan, hal tersebut juga memberikan dorongan sosial-ekonomi dan sosial-budaya bagi masyarakat setempat. Di Orang Laut Papua, kami menggunakan Yaf Keru lebih dari sekadar latihan dalam “transplantasi karang”, tetapi sebagai sarana untuk meningkatkan beberapa aspek mendasar terkait mata pencaharian masyarakat yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada peningkatan keberlanjutan, pengelolaan dan konservasi dari keseimbangan yang rentan antara masyarakat dan terumbu karang tempat kita bergantung.

Tujuan

Berkontribusi pada pemulihan, pemeliharaan dan konservasi sistem terumbu karang dan layanan yang mereka berikan.

Hampir 10 tahun setelah penetapan Kawasan Konservasi Perairan di wilayah tersebut, bekas kerusakan akibat bom ikan dan sianida masih ada dan terlihat jelas di terumbu karang. Dengan peningkatan pariwisata yang cepat ke daerah tersebut dan pengaruh perubahan iklim, konservasi karang dan alat manajemen dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Melalui Yaf Keru, kami bertujuan untuk menciptakan ‘Pekebun karang’ lokal yang mampu mengurangi degradasi terumbu karang di masa lalu, saat ini dan di masa depan.

Secara langsung meningkatkan mata pencaharian anggota masyarakat lokal dengan menyediakan lapangan kerja.

Restorasi terumbu sangat penting tidak hanya bagi manfaat ekologisnya tetapi juga untuk peningkatan sosial ekonomi masyarakat setempat. Di Indonesia, 25.1 juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, dengan data dari Maret 2019 menunjukkan sekitar 20,6% dari seluruh populasi rentan jatuh ke dalam kemiskinan. (Sumber Data: The World Bank)

Yaf Keru bertujuan untuk menyediakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat lokal untuk mengurangi tekanan lingkungan yang ada dan mengganti perilaku ekstraktif dengan praktik-praktik yang meningkatkan layanan ekosistem lokal. Sampai saat ini, ‘Pekebun karang’ kami berasal dari penduduk desa setempat, dan tumbuh dengan mengandalkan perikanan sebagai sumber utama makanan bagi mereka dan keluarga mereka di Raja Ampat. Seperti halnya banyak penduduk setempat di wilayah tersebut, selama era kepopuleran penggunaan bom ikan (akhir 90-an – awal 2000-an), sedari kecil mereka menyaksikan atau ikut dalam praktik penangkapan ikan yang merusak, namun sekarang bertanggung jawab untuk memulihkan daerah yang rusak.

Untuk meningkatkan kesadaran dan mendidik komunitas lokal & internasional terkait ekologi terumbu karang serta fungsi dan layanan yang mereka berikan.

Pendidikan adalah komponen mendasar dalam upaya kami untuk berkontribusi pada konservasi Selat Dampier dan wilayah Raja Ampat lainnya. ‘Pekebun Karang’ kami semuanya memiliki fungsi sebagai duta konservasi terumbu karang, yang mampu meningkatkan kesadaran di dalam komunitas mereka, serta masyarakat internasional melalui kegiatan terkait pariwisata. Yaf Keru juga berfungsi sebagai platform pendidikan yang digunakan untuk memberikan pengalaman langsung kepada pemuda setempat dan pengunjung yang tertarik ke wilayah tersebut.

Untuk membangun kembali praktik pengelolaan laut tradisional "sasi" di dalam 500Ha kompleks terumbu karang di jantung Selat Dampier, Raja Ampat.

Sasi adalah bentuk nenek moyang tradisional dari cagar laut. Di bawah kesepakatan bersama, suatu wilayah dinyatakan sebagai zona terlarang untuk pengambilan sumber daya untuk waktu tertentu oleh masyarakat, sehingga memungkinkan ikan dan terumbu pulih dari eksploitasi. Untuk meresmikan sebuah sasi, dilaksanakan upacara tradisional, daerah itu lalu diberkati oleh para sesepuh setempat dan diikuti dengan ritual leluhur. Memastikan praktik tradisional ini ditegakkan dan berlanjut seiring dengan perkembangan sosial ekonomi adalah aspek sentral dari pendekatan konservasi kami.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang resistensi, ketahanan, dan potensi regenerasi terumbu karang sehat Raja Ampat.

Yaf Keru menyediakan laboratorium alami yang ideal yang dapat dimonitor untuk membantu kita lebih memahami respons karang terhadap perubahan kondisi lingkungan. Baru-baru ini diamati bahwa karang di Raja Ampat menunjukkan ketahanan dan resistensi yang luar biasa terhadap tekanan lingkungan (yaitu: perubahan iklim, El Nino). Pada saat terumbu di seluruh dunia mengalami degradasi lebih cepat daripada periode lainnya dalam sejarah, sangatlah penting untuk memahami potensi regenerasi di dalam kondisi ideal Raja Ampat. Selama 3 tahun ke depan kami berharap untuk belajar lebih banyak tentang pertumbuhan dan rekrutmen alami karang, serta kemampuan mereka untuk bertahan, beradaptasi dan mengatasi dinamika perubahan iklim saat ini.

Untuk mengembangkan model pariwisata konservasi yang berkelanjutan dan dapat ditiru, dalam kolaborasi langsung dengan para pemangku kepentingan lokal.

Yaf Keru menyediakan platform multi-tujuan di mana pemangku kepentingan Taman Laut dapat bertemu dan bertukar melalui konservasi karang. ‘Pekebun karang’ lokal yang terlatih dapat menawarkan kepada pengunjung Raja Ampat kesempatan unik untuk terlibat melakukan restorasi karang secara langsung, belajar tentang terumbu karang dan berkontribusi pada pengelolaan dan konservasi selama mereka tinggal, mengubah liburan sederhana menjadi pengalaman yang saling memperkaya.

Berkontribusi pada pembentukan jaringan tambatan kapal di Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat.

Berlabuh di Raja Ampat tanpa merusak terumbu karang adalah tantangan umum yang dihadapi oleh pengguna kapal; khususnya dengan meningkatnya perkembangan kegiatan kapal pesiar dan Liveaboard. Bersama-sama dengan Pemangku Kepentingan lokal, Orang Laut Papua saat ini sedang mengerjakan implementasi Sistem Mooring Raja Ampat (RAMS) untuk mengelola yacht dan liveaboard dengan lebih baik sehingga mengurangi dampak kerusakan jangkar pada terumbu karang sambil memastikan lokasi yang aman untuk kapal.

Untuk merehabilitasi 1 hektar lereng terumbu yang rusak pada tahun 2020. 5-10 hektar dalam waktu 3-5 tahun.

Sayangnya krisis Covid-19 telah menunda implementasi awal dari projek ini. Namun, sambil menunggu dana, niat kami tetap sama untuk memulihkan sekitar 1 hektar terumbu yang rusak per tahun.
Pada skala inilah manfaat rehabilitasi karang dapat secara ekologis menjadi signifikan untuk kawasan ini. Pekerjaan restorasi sebesar ini juga akan memberikan kesempatan kerja penuh waktu bagi 10-20 ’pekebun karang’ dan semakin mendukung mata pencaharian keluarga mereka.

Kisahnya Sejauh Ini

Sepanjang fase percontohannya, Oramg Laut Papua telah merehabilitasi lebih dari 1000m2 terumbu karang yang terdegradasi, mentransplantasikan 8000+ fragmen karang, melatih 12 anggota masyarakat setempat sebagai ‘pekebun karang’ dan melakukan kampanye penyadaran di 3 desa.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang Kisah sejauh Ini, silakan periksa tautan berikut atau tonton video di bawah ini.

Yaf Keru – Fase Percontohan
Yaf Keru – Sawandarek